Internet Marketing VS UKM

Ditulis Oleh raihanah, Friday, 31 August 2007

Oleh: Aulia Hazmy

Seorang ekonom Bangladesh, Muhammad Yunus, peraih hadiah Nobel pada tahun 2006 berhasil melahirkan usahawan yang mandiri dengan menghidupkan sektor usaha kecil dan menengah. Sulitnya usaha kecil berkembang salah satunya disebabkan oleh sulitnya mendapat pinjaman dari bank. Padahal dalam kenyataan usaha kecillah yang lebih akuntabel dan tidak seret dalam pengembalian pinjamam dan justru pengusaha besarlah yang ngemplang hutang.

Dalam perkembangannya UKM merupakan konsep ekonomi rakyat yang langsung dapat dirasakan dampaknya oleh rakyat. UKM menunjukkan sebuah keselarasan makna kemakmuran dan kesejahteraan bukan untuk memuaskan atau mempermewah diri.
UKM juga menunjukkan bukan memperkaya diri yang sudah kaya supaya menjadi penolong si miskin akan tetapi menolong si miskin agar tak menjadi beban si kaya.

Lantas bagaimana dengan internet marketing yang “katanya” seorang marketer yang menjalaninya bisa berpenghasilan jutaan, ratusan juta bahkan milyaran rupiah?Seberapa besar peran online marketing dalam peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia yang nyatanya 60% tergolong miskin? Malah bisa menjadi sebuah ke”ragu”an bahwa online marketing akan malah melahirkan jurang pemisah yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin.

Bisa dikatakan bahwa online marketing tidak dapat menyentuh langsung dalam memobilisasi rakyat menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Hal ini tidak lain dipicu oleh keterbatasan rakyat kecil terhadap teknologi informasi dan komputerisasi saat ini (rakyat belum melek teknologi alias gaptek).

Untuk itu perlu adanya sebuah konsep seperti yang disebutkan di atas yaitu melepaskan si miskin dari beban si kaya. Konsep ini dapat dimulai dari si marketer yang menyisihkan 2.5% (atau berapa pun) dari penghasilan ratusan jutanya sebagai modal si miskin dalam membangun dan menjalankan usaha kecilnya. 2.5% tidaklah besar bagi seorang online marketer namun sangat berarti bagi usaha kecil dalam membangun usahanya.

Coba kita lihat seorang tukang bakso, seberapa besar modal yang diperlukan dalam menjalankan usahanya? Mungkin kurang dari 2.5% dari penghasilan online marketer.
Berapa modal seorang tukang Bakpow, tukang jagung rebus, tukang sayur, tukang sate dan lain-lain?

Coba kita bandingkan ada berapa banyak online marketer di Indonesia, 1 atau 100 atau 1000? Kalau benar ada 1000 online marketer, bayangkan berapa banyak uang yang dapt digunakan oleh rakyat kecil untuk menjalankan usahanya.

NB: Tulisan ini dibuat untuk mengetuk pintu hati online marketer yg telah berhasil untuk peduli pada usaha kecil.

Penulis adalah member Asian Brain, dan saat ini bekerja sebagai staff British Red Cross di Banda Aceh.

Belajar Internet Marketing dengan ANNE AHIRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: